Beberapa ganti cuaca dalam sehari.
Empat musim dalam sehari.
Kesusahan hati baur dalam sehari.
Keterasingan bagai luruh dalam hari-hari.
Dirimu pergi tanpa secarik kabar yang
terlunta pada angin,
riak sungai dingin,
bebulir pasir mata ingin.
Kenangan-kenangan bersama dirimu
yang tersisa.
Apakah itu yang kau mau,
agar saat kau kembali, aku dapat menerimamu
sepenuh hati? Aku sudah pergi
bersama lintang malam saat kau kembali, maaf!
Jangan Lupakan Ibu, ya pak!
gumaman
Sigit Pramudito
Rabu, 29 September 2010
Kristal-kristal yang perlahan meleleh di kening
bapak hampir terasa garam,
amat masam.
Tiap garis yang menekuk
di kening mengingatkan umur yang tak
lagi bening, kusam terasah berpenuh kerakal tajam.
Lintasan tualang panjangmu,
entah berapa tikung tajam terlewati dengan terseok,
terpeleset, terpingkal oleh
aspal panas jalan siang.
Beberapa saat lagi bapak, sabarlah sebentar duhai manusia paling utama.
Kau akan terlelap meninggalkan jejak segala keletihan dunia.
Kau akan tenang dalam belai isterimu yang terus akan mengenang kau seorang.
Kau akan bersanding dengan bidadari bersayap rama-rama, tapi jangan kau lupakan ibuku, ya pak!
bapak hampir terasa garam,
amat masam.
Tiap garis yang menekuk
di kening mengingatkan umur yang tak
lagi bening, kusam terasah berpenuh kerakal tajam.
Lintasan tualang panjangmu,
entah berapa tikung tajam terlewati dengan terseok,
terpeleset, terpingkal oleh
aspal panas jalan siang.
Beberapa saat lagi bapak, sabarlah sebentar duhai manusia paling utama.
Kau akan terlelap meninggalkan jejak segala keletihan dunia.
Kau akan tenang dalam belai isterimu yang terus akan mengenang kau seorang.
Kau akan bersanding dengan bidadari bersayap rama-rama, tapi jangan kau lupakan ibuku, ya pak!
Sepucuk Surat Inginku
gumaman
Sigit Pramudito
Sungguh, bayangan dirimu kian berdentang,
bangkit kembali dari kendaga yang sudah
kularung pada tepi lautan, ombak rupanya telah khianat!
Sosok dirimu muncul lewat: kalimat ibu matahari,
goresan embun pada pagi yang suci, aroma kelopak melati.
Apakah dirimu juga merindu seperti
diriku yang membuat buyar pandangan mataku, kini.
Sepucuk surat telah kutulisi dengan
segala hati yang berpenuh pesona cahaya parasmu,
yang terkadang membuat termangu dan hirau waktu bergulir.
Kembali ingin kusapa jiwa ranummu.
Sayang inginku sebatas aliran aorta hitam.
bangkit kembali dari kendaga yang sudah
kularung pada tepi lautan, ombak rupanya telah khianat!
Sosok dirimu muncul lewat: kalimat ibu matahari,
goresan embun pada pagi yang suci, aroma kelopak melati.
Apakah dirimu juga merindu seperti
diriku yang membuat buyar pandangan mataku, kini.
Sepucuk surat telah kutulisi dengan
segala hati yang berpenuh pesona cahaya parasmu,
yang terkadang membuat termangu dan hirau waktu bergulir.
Kembali ingin kusapa jiwa ranummu.
Sayang inginku sebatas aliran aorta hitam.
Tuah Kopi
gumaman
Sigit Pramudito
Kamis, 23 September 2010
Katanya biji kehitamanmu adalah
buah kutukan dari negeri berantah,
dikisahkan dalam dongeng dari turunan
yang berapa entah.
Engkau bersanding di meja para pembesar
bercangkir kristal, berjejar di meja warung kopi
sebagai penyumpal ternggorokan yang tak pernah
mengenal tawarnya nasi.
Gelas demi gelas kuresapi, meretas
segala apa yang belum kupahami dalam
bicaramu, penuh ketawadhuan aku menyesap,
lesaplah kamu dalam biji mataku.
buah kutukan dari negeri berantah,
dikisahkan dalam dongeng dari turunan
yang berapa entah.
Engkau bersanding di meja para pembesar
bercangkir kristal, berjejar di meja warung kopi
sebagai penyumpal ternggorokan yang tak pernah
mengenal tawarnya nasi.
Gelas demi gelas kuresapi, meretas
segala apa yang belum kupahami dalam
bicaramu, penuh ketawadhuan aku menyesap,
lesaplah kamu dalam biji mataku.
Ayah Belahan Tubuh, Membatu
gumaman
Sigit Pramudito
Pernah kita terperangkap dalam awan jingga,
berkisah danau tua yang mengering tiba-tiba,
ikan disana terkapar menatap musim
yang enggan bergulir, dan nasibnya
yang centang perenang. Seperti waktu
kita melihat layang-layang putus mengabadikannya
dalam poteret kelam sebagai kenang-kenangan
bila mata kita mulai hanya bisa meraba tanpa
mengetahui prasangka dari berbagai macam bentuk benda.
Mulutmu begitu masam kali ini, tetapi tetap saja kita tidak beranjak dari senja.
Ayah, puteramu hanya sebongkah batuan
magma yang selalu cair,
tanpa tahu apa itu rasanya menjadi matang
dan padat, merasakan gemerisik angin ladang
yang mengelus dadamu yang bidang, dan
memang terasa kelapangannya.
Aku pun tak sanggup menitikkan air mata lara,
ketika tubuhmu terbelah seketika oleh godam
jingga yang akhirnya berputar hanya… hanya… untukmu.
berkisah danau tua yang mengering tiba-tiba,
ikan disana terkapar menatap musim
yang enggan bergulir, dan nasibnya
yang centang perenang. Seperti waktu
kita melihat layang-layang putus mengabadikannya
dalam poteret kelam sebagai kenang-kenangan
bila mata kita mulai hanya bisa meraba tanpa
mengetahui prasangka dari berbagai macam bentuk benda.
Mulutmu begitu masam kali ini, tetapi tetap saja kita tidak beranjak dari senja.
Ayah, puteramu hanya sebongkah batuan
magma yang selalu cair,
tanpa tahu apa itu rasanya menjadi matang
dan padat, merasakan gemerisik angin ladang
yang mengelus dadamu yang bidang, dan
memang terasa kelapangannya.
Aku pun tak sanggup menitikkan air mata lara,
ketika tubuhmu terbelah seketika oleh godam
jingga yang akhirnya berputar hanya… hanya… untukmu.
