Bisikan Sunyi

Jumat, 15 Oktober 2010
Seakan kita dilanda kesunyian yang menyering.
Bibirmu yang bergerak, penuh ketersembunyian
kalimat dan suara gelegak ombak pesisir.
Kupingku yang entah berdengarkan bisikan
bagai ilham Tuhan –tumaninah-, yang berhasil
menyesatkan iman para utusan.
Terpegang tetap namamu, sayang.
Tetapi namamu bukanlah pengobat rupa kerinduanku.

Dendang Seruling Embun

Senin, 04 Oktober 2010
Kan ku ngiangkan sejumlah untaian rindu
yang mengedarkan kabut berimbun syahdu.
Meniup seruling embun malam tanpa bintang beribu,
hanya mendendangkan lagu tentang liku kita

Aku kan selalu berada untukmu, sebagai bahu
tempat kau beruraian airmata haru,
atau sekedar berkisah tentang jauh tempuhan jarak
kasih kita.

Ya, hanya berdua kita saling mengisi.
Mengucap janji sehidup semati,
yang sering membuatmu tersenyum geli.
Ya, aku kan selalu di sisimu jelita.
Mengungkap segala rahasia hati kita berdua
tanpa bintang yang berlomba cahaya.

Tenang Dekapmu

Bersamamu seperti tanpa jeda
detak waktu seperti enggan menunggu
melibasi rindu
yang kini menetes di dadaku

Kulipat cahaya karena
aku tenang
dalam dekapmu
dalam kecupmu
tak butuh gemintang yang lain.

Ciptakan matahari dari tiap
hembusan bisik kalimatmu
aku tengadahkan tangan tuk terima

Minggu hanya sebuah nama
tanpa arti tanpa ceria,
suka
dan gemerisik tawamu
aku idamkan.

Baur Dalam Hari-hari

Beberapa ganti cuaca dalam sehari.
Empat musim dalam sehari.
Kesusahan hati baur dalam sehari.
Keterasingan bagai luruh dalam hari-hari.

Dirimu pergi tanpa secarik kabar yang
terlunta pada angin,
riak sungai dingin,
bebulir pasir mata ingin.
Kenangan-kenangan bersama dirimu
yang tersisa.
Apakah itu yang kau mau,
agar saat kau kembali, aku dapat menerimamu
sepenuh hati? Aku sudah pergi
bersama lintang malam saat kau kembali, maaf!

Jangan Lupakan Ibu, ya pak!

Rabu, 29 September 2010
Kristal-kristal yang perlahan meleleh di kening
bapak hampir terasa garam,
amat masam.
Tiap garis yang menekuk
di kening mengingatkan umur yang tak
lagi bening, kusam terasah berpenuh kerakal tajam.
Lintasan tualang panjangmu,
entah berapa tikung tajam terlewati dengan terseok,
terpeleset, terpingkal oleh
aspal panas jalan siang.

Beberapa saat lagi bapak, sabarlah sebentar duhai manusia paling utama.
Kau akan terlelap meninggalkan jejak segala keletihan dunia.
Kau akan tenang dalam belai isterimu yang terus akan mengenang kau seorang.
Kau akan bersanding dengan bidadari bersayap rama-rama, tapi jangan kau lupakan ibuku, ya pak!