SKAK MAT !!!
Pemain kecewa. Penonton kecewa.
Presiden kecewa. Kosmos kecewa.
Alpa Pikiran
gumaman
Sigit Pramudito
Bersyukur aku dapat melupa, mengurai berai ingatan segala perjalanan.
Lupa tiap kerakal tertancap di sela jemari kaki, lupa sayatan di hati buat sekujur pikiran terasa ngilu, lupa tiap permainan cinta yang menyakiti dan tersakiti nyeri.
Sejak mulai menghirup udara lewat temali pusar, aku sudah dibuat lupa, kapan terjadinya bentuk diriku, mengapa ruh ku betah tinggal di tubuh rapuh ini, atau perjanjian apa yang telah aku sepakati dahulu.
Entah mengapa lupa menjadi populer saat diri ini memutih kepala, seakan lupa menjadi senang menyapaku sepagi hari.
Lupa kata-kata mutiara yang terlontar, seakan aku ingin mengingkar.
Buat apa bersusah pikir, biarkan angin melena semuanya, rasakan tiap detaknya belai helai rerambutku.
Maaf aku lupa!!
Lupa tiap kerakal tertancap di sela jemari kaki, lupa sayatan di hati buat sekujur pikiran terasa ngilu, lupa tiap permainan cinta yang menyakiti dan tersakiti nyeri.
Sejak mulai menghirup udara lewat temali pusar, aku sudah dibuat lupa, kapan terjadinya bentuk diriku, mengapa ruh ku betah tinggal di tubuh rapuh ini, atau perjanjian apa yang telah aku sepakati dahulu.
Entah mengapa lupa menjadi populer saat diri ini memutih kepala, seakan lupa menjadi senang menyapaku sepagi hari.
Lupa kata-kata mutiara yang terlontar, seakan aku ingin mengingkar.
Buat apa bersusah pikir, biarkan angin melena semuanya, rasakan tiap detaknya belai helai rerambutku.
Maaf aku lupa!!
Kufur
gumaman
Sigit Pramudito
Jumat, 03 September 2010
Melupa aku
segala
Berpijak kepada tiada.
Abadi bersama asap dunia.
Amin?
segala
Berpijak kepada tiada.
Abadi bersama asap dunia.
Amin?
Asap Itu Mengoyak Iman
gumaman
Sigit Pramudito
Kamis, 02 September 2010
Belum lagi rembulan surut cahaya di subuh yang sibuk kumandang adzan dan
bukit ungu membeku setelah hujan.
Raungan sirene menjeda perhatian, beradu pekak swara dengan adzan merintih tindih.
Ada asap di hujung angkasa, meninggi hendak penuhi semesta raya.
Kami memandang linglung, berhenti langkah menuju tanah penghambaan diri pada Yang Esa.
Raungan milik sinar merah mendidihkan darah sekujur tubuh.
Itu arah kampung kami yang berwarna kuning keemasan, berlenggok cahaya.
Panik, kalut, sakit tak tahu apakah masih ada ruang gembira dihati
Bergegas sebahagian tuju kampung berwarna bara, sebahagian khusyuk, tumaninah dalam perjalanan ke surau.
Tuhankah, sanak saudarakah, harta bendakah, yang harus menjadi kepingan terpenting iman kami?
Langkah kami bimbang, seakan tempayan gelinding hendak menabrak dinding.
Kami sudah tak hirau panggilan nurani.
Dunia kami sudah suram sedari tadi.
bukit ungu membeku setelah hujan.
Raungan sirene menjeda perhatian, beradu pekak swara dengan adzan merintih tindih.
Ada asap di hujung angkasa, meninggi hendak penuhi semesta raya.
Kami memandang linglung, berhenti langkah menuju tanah penghambaan diri pada Yang Esa.
Raungan milik sinar merah mendidihkan darah sekujur tubuh.
Itu arah kampung kami yang berwarna kuning keemasan, berlenggok cahaya.
Panik, kalut, sakit tak tahu apakah masih ada ruang gembira dihati
Bergegas sebahagian tuju kampung berwarna bara, sebahagian khusyuk, tumaninah dalam perjalanan ke surau.
Tuhankah, sanak saudarakah, harta bendakah, yang harus menjadi kepingan terpenting iman kami?
Langkah kami bimbang, seakan tempayan gelinding hendak menabrak dinding.
Kami sudah tak hirau panggilan nurani.
Dunia kami sudah suram sedari tadi.
Rumah Baru
gumaman
Sigit Pramudito
Kau lihat susunan bata merah teramat elok, mengelilingi sudut-sudut tanah.
Genting cokelat yang meneduhkan dari senyum hangat mentari dan
keintiman tarian titik air sunyi.
Itulah rumahku, sebuah kesederhanaan
Segala kisah tentang keluargaku ada disana ; sedih, gembira, tawa, maupun nestapa.
Pagi ini bahak buldozer akan singgah di beranda rumahku.
Ayah termangu memunguti sisa ingatan di lorong waktu.
Sebab kami disini sudah sejak ayah-ayah-kakek ku.
Ganas sekali buldozer itu mengaum, cium ringkih dinding.
Ayah, mari kita pindah.
Kolong jembatan sana lebih kokoh sepertinya.
Genting cokelat yang meneduhkan dari senyum hangat mentari dan
keintiman tarian titik air sunyi.
Itulah rumahku, sebuah kesederhanaan
Segala kisah tentang keluargaku ada disana ; sedih, gembira, tawa, maupun nestapa.
Pagi ini bahak buldozer akan singgah di beranda rumahku.
Ayah termangu memunguti sisa ingatan di lorong waktu.
Sebab kami disini sudah sejak ayah-ayah-kakek ku.
Ganas sekali buldozer itu mengaum, cium ringkih dinding.
Ayah, mari kita pindah.
Kolong jembatan sana lebih kokoh sepertinya.
